Pentingnya Skrining Kanker Payudara dan Pilihan Paketnya
Kanker payudara masih menjadi salah satu jenis kanker mematikan yang paling sering ditemukan pada wanita di dunia, tanpa terkecuali Indonesia. Penyakit ini, menurut Kementerian Kesehatan (Kemenkes), menghantui setidaknya 1 dari 4 wanita Indonesia, dengan jumlah kematian hampir mencapai 23 ribu kasus pada 2022 berdasarkan data Global Burden of Cancer Study (Globocan).
Risiko kematian akibat kanker ini sebenarnya masih bisa dicegah apabila terdeteksi sejak dini. Di sinilah mengapa skrining kanker payudara penting sebagai langkah preventif.
Dalam momentum peringatan Hari Kanker Sedunia, ini waktu yang tepat bagi Anda untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya deteksi dini sebagai bentuk kepedulian terhadap diri sendiri. Selengkapnya, mari simak informasi mengenai skrining kanker payudara di artikel berikut ini.
Apa Itu Skrining Kanker Payudara?
Skrining kanker payudara merupakan serangkaian pemeriksaan medis untuk menemukan tanda awal kanker payudara pada perempuan yang belum memiliki keluhan. Prosedur ini bertujuan mengetahui perubahan pada jaringan payudara seawal mungkin, ketika kanker masih berada pada tahap awal sehingga peluang pengobatan lebih tinggi.
Skrining kanker payudara meliputi pemeriksaan periksa payudara sendiri (SADARI) atau breast self examination, periksa payudara klinis (SADANIS) atau clinical breast examination, mammografi, serta pemeriksaan penunjang, seperti USG ataupun MRI mammae.
Mengapa Skrining Kanker Payudara Penting bagi Wanita Usia Produktif?

Kanker payudara tidak hanya menyerang kalangan lansia, tetapi juga usia produktif. | Sumber: Freepik/stefamerpik
Terdapat anggapan umum bahwa kanker payudara hanya menyerang perempuan berusia di atas 50 tahun. Faktanya, penyakit akibat pertumbuhan tak terkendali pada jaringan payudara ini tak hanya menghantui kelompok usia lanjut.
Herawati, et al dalam Fakumi Medical Journal: Jurnal Mahasiswa Kedokteran (2021) menunjukkan bahwa walaupun benar rentang usia 41–50 tahun (42,18%) jadi yang terbanyak menderita kanker payudara, wanita usia produktif yang tergolong dalam kelompok usia 30–40 tahun (21,87%) dan di bawah 30 tahun (6,25%) masih sangat berisiko mengidap penyakit tersebut.
Di samping itu, pada usia produktif, jaringan payudara cenderung lebih padat sehingga perubahan kecil, misalnya benjolan atau kelainan miskroskopis lainnya, sering kali sulit dideteksi hanya dengan mengandalkan SADARI. Tanpa skrining, banyak kasus baru diketahui saat kanker sudah berkembang ke stadium lanjut.
Melalui skrining medis secara rutin, risiko komplikasi dapat ditekan. Pemeriksaan ini memberikan data akurat mengenai kondisi kesehatan payudara yang tidak dapat dilihat oleh mata telanjang atau dirasakan melalui perabaan luar. Lebih lanjut, mengetahui kondisi kesehatan sejak dini memberikan ketenangan pikiran dan memungkinkan perencanaan kesehatan jangka panjang yang lebih baik.
Baca Juga: Segala Hal yang Perlu Anda Ketahui soal Cek Up Kesehatan
Metode Skrining Kanker Payudara yang Umum Digunakan
Dalam praktik medis modern, terdapat beberapa metode yang digunakan untuk melakukan skrining kanker payudara. Pemilihan metode bergantung pada usia, kondisi jaringan payudara, serta faktor risiko individu.
USG Mammae
USG mammae memanfaatkan gelombang suara berfrekuensi tinggi untuk menghasilkan gambaran jaringan payudara. Metode ini tidak menggunakan radiasi dan umumnya direkomendasikan untuk
- perempuan usia di bawah 30 tahun,
- perempuan dengan jaringan payudara padat, dan
- pemeriksaan awal jika terdapat keluhan tertentu.
USG mammae efektif untuk membedakan massa padat dan kista berisi cairan serta mendeteksi kelainan yang belum terasa secara fisik.
Mammografi
Mammografi adalah metode skrining yang menggunakan sinar-X dosis rendah untuk mengambil gambar jaringan payudara. Pemeriksaan ini mampu mendeteksi kalsifikasi kecil yang merupakan indikasi awal keberadaan sel kanker yang bahkan belum membentuk benjolan padat.
Mammografi umumnya direkomendasikan untuk
- perempuan usia 30 tahun ke atas,
- perempuan dengan risiko tinggi kanker payudara, dan
- pemantauan berkala sesuai anjuran medis.
MRI Mammae
MRI mammae merupakan salah satu metode lain yang digunakan untuk skrining kanker payudara. Metode ini memanfaatkan magnet dan gelombang radio untuk memeriksa payudara.
MRI mammae umumnya digunakan bersamaan dengan mammografi untuk skrining perempuan dengan risiko kanker payudara tinggi. Meski begitu, prosedur ini kurang efektif untuk pasien dengan risiko rata-rata karena hasil MRI bisa terlihat abnormal walaupun sebenarnya tidak terdapat kanker.
Metode SADARI
Di samping metode yang melibatkan pemeriksaan dari tim medis atau SADANIS, Anda juga dapat memeriksa kondisi payudara dengan metode breast self-examination atau SADARI. Sesuai namanya, cara ini mengharuskan Anda untuk memeriksa sendiri apakah terdapat perubahan yang terjadi pada payudara, baik secara penampilan atau ketika diraba.
Mengutip laman Cleveland Clinic, pemeriksaan secara SADARI melibatkan dua jenis prosedur, yakni pemeriksaan secara visual (dengan mata) dan fisik (dengan jari).
Pemeriksaan Visual
Anda dapat menghadap cermin untuk memeriksa apakah secara bentuk payudara Anda tampak berubah. Anda dapat mengikuti langkah-langkah berikut:
- Letakkan tangan di samping tubuh. Periksa apakah ada perubahan bentuk payudara, pembengkakan, kerutan pada kulit, atau posisi puting.
- Angkat tangan tinggi-tinggi di atas kepala dan periksa perubahan yang sama.
- Letakkan tangan di pinggul dan tekan otot dada sehingga otot tersebut berkontraksi. Periksa perubahan yang sama lagi.
Pemeriksaan Fisik
Tahapan ini mengharuskan Anda menekan-nekan jaringan payudara dengan jari untuk mengecek apakah ada benjolan atau perubahan lainnya. Pemeriksaan fisik dilakukan dengan posisi berdiri maupun berbaring.
Posisi Berdiri
- Gunakan tangan kanan untuk memeriksa payudara kiri, lalu sebaliknya.
- Dengan ujung jari tengah, tekan setiap bagian payudara. Gunakan tekanan ringan, lalu sedang, dan kemudian kuat. Rasakan apakah ada benjolan, area tebal, atau perubahan lain.
- Gerakkan dalam pola melingkar agar mencakup seluruh area payudara.
- Tekan jaringan terdekat ketiak. Pastikan memeriksa di bawah areola dan peras puting untuk memeriksa adanya cairan.
- Ulangi langkah serupa pada sisi lain.
Posisi Berbaring
- Ambil posisi berbaring dengan bantal di bawah bahu kanan. Letakkan lengan kanan di belakang kepala.
- Dengan ujung jari tengah tangan kiri, periksa semua bagian payudara kanan. Gunakan tekanan ringan, sedang, dan kuat.
- Pastikan memeriksa semua area, seperti di bawah ketiak dan sekitar areola. Tekan lembut puting untuk memeriksa adanya cairan.
- Ganti sisi dan ulangi dengan tangan dan payudara sebelahnya.
Metode SADARI efektif untuk mengetahui sejak dini apakah terjadi perubahan pada payudara sehingga disarankan untuk dilakukan setiap bulan.
Walaupun begitu, pemeriksaan mandiri seperti ini tidak dapat menggantikan pemeriksaan medis ataupun skrining. Anda tetap perlu berkonsultasi secara rutin dengan dokter dan tenaga medis untuk melakukan skrining kanker payudara, seperti yang tersedia di Parahita Lab.
Pilihan Paket Skrining Kanker Wanita di Parahita Lab

Ilustrasi skrining kanker payudara | Sumber: Freepik/pikisuperstar
Sebagai jaringan laboratorium klinik dan pusat diagnostik di Indonesia, Parahita Lab menyediakan berbagai layanan skrining yang dirancang secara khusus untuk memenuhi kebutuhan deteksi dini kanker dengan standar medis yang akurat.
Tersedia pilihan Paket Skrining Kanker Wanita yang menawarkan layanan pemeriksaan secara menyeluruh untuk mendeteksi risiko kanker yang umum menyerang wanita, seperti kanker payudara.
Anda mendapat pemeriksaan palpasi payudara untuk mencari tanda-tanda awal, seperti benjolan atau perubahan lain, yang mungkin belum terasa. Paket ini juga menggabungkan pemeriksaan laboratorium dan pencitraan medis modern yang melibatkan teknologi USG dan rontgen untuk memberikan gambaran lengkap mengenai kondisi kesehatan Anda.
Selain itu, seluruh pemeriksaan tentu saja dilakukan oleh tenaga medis yang berpengalaman dalam kesehatan wanita. Tim profesional ini akan memastikan proses skrining berjalan dengan aman, nyaman, dan sesuai standar medis tertinggi.
Langkah Praktis Melakukan Pemeriksaan di Parahita Lab
Skrining kanker payudara di Parahita Lab dapat dengan mudah Anda lakukan tanpa perlu keluar rumah. Proses pendaftaran bisa dilakukan secara online melalui situs resmi Parahita atau melalui WhatsApp. Tanpa harus antre lama, Anda bisa langsung memilih jadwal yang sesuai dan mendapatkan layanan yang cepat dan responsif.
Di samping itu, hasil tes dapat langsung diakses secara digital melalui aplikasi Parahita kapan pun dan di mana pun Anda berada.
Lindungi Diri dengan Skrining sedari Dini
Skrining kanker payudara menjadi langkah preventif untuk mendeteksi masalah sejak dini. Deteksi dini ini bukan untuk menakut-nakuti diri, melainkan bentuk kepedulian dan kasih sayang terhadap kesehatan tubuh Anda sendiri agar tetap terlindungi di masa depan.
Dengan rutin memeriksakan diri, Anda tidak hanya membangun kebiasaan baik, tetapi juga melindungi Anda dari risiko fatal akibat kanker payudara.
Untuk itu, lindungi masa depan Anda dengan deteksi dini bersama Parahit. Kunjungi website resminya atau konsultasi dengan tim Parahita melalui WhatsApp resmi untuk mendapatkan informasi lebih lanjut tentang paket skrining kanker payudara.
Jangan tunggu nanti-nanti, segera periksakan diri Anda demi masa depan yang lebih sehat dan bahagia.
Baca Juga: Pahami Prosedur dan Manfaat Pemeriksaan Darah Sebelum ke Laboratorium
FAQ
Skrining kanker payudara apa saja?
Skrining kanker payudara meliputi USG mammae, mammografi, dan pemeriksaan klinis payudara oleh tenaga medis, dengan pemeriksaan penunjang tertentu bila diperlukan.
Apa itu IVA Test dan SADANIS?
IVA Test adalah metode skrining kanker serviks yang melibatkan pengusapan asam cuka/asetat pada permukaan leher rahim, sedangkan SADANIS adalah pemeriksaan payudara secara yang dilakukan oleh tenaga kesehatan.
CA 15-3 untuk pemeriksaan apa?
CA 15-3 adalah penanda tumor berupa protein yang digunakan untuk membantu mendeteksi penyebaran sel kanker payudara ke jaringan lain.
Seberapa sering harus skrining kanker payudara?
Frekuensi skrining kanker payudara bergantung pada usia, faktor risiko, dan metode pemeriksaan yang digunakan. Untuk usia di atas 40 tahun, disarankan untuk menjalani mammografi tiap 1–2 tahun.
Berapa biaya screening payudara?
Biaya skrining payudara bervariasi. Layanan mammografi bisa berkisar antara Rp350.000 sampai lebih dari Rp900.000, sedangkan USG mammae bisa dalam rentang Rp250.000 sampai Rp750.000.
Referensi:
- Centers for Disease Control and Prevention. (2024, September 16). Screening for Breast Cancer. https://www.cdc.gov/breast-cancer/screening/index.html
- Cleveland Clinic. (2025, August 25). Breast Self-Exam: Purpose, Steps & How To. https://my.clevelandclinic.org/health/diagnostics/3990-breast-self-exam
- Cleveland Clinic. (2024, November 26). Mammogram vs. Breast Ultrasound: Which One Is Best?. https://health.clevelandclinic.org/breast-ultrasound-vs-mammogram
- Ferlay J, Ervik M, Lam F, Laversanne M, Colombet M, Mery L, Piñeros M, Znaor A, Soerjomataram I, Bray F (2024). Global Cancer Observatory: Cancer Today. Lyon, France: International Agency for Research on Cancer. Available from: https://gco.iarc.who.int/today, accessed [4 February 2026]
- Herawati, A. et al. (2021). Karakteristik Kanker Payudara. Fakumi Medical Journal: Jurnal Mahasiswa Kedokteran, 1(1), https://doi.org/10.33096/fmj.v1i1.76
- Health Images. (n.d.) Breast Ultrasound vs. Mammography. https://www.healthimages.com/breast-ultrasound-vs-mammography/
- Kementerian Kesehatan. (2022, February 2). Kanker Payudara Paling Banyak di Indonesia, Kemenkes Targetkan Pemerataan Layanan Kesehatan. https://kemkes.go.id/id/kanker-payudaya-paling-banyak-di-indonesia-kemenkes-targetkan-pemerataan-layanan-kesehatan
- Kemenkes RS Hasan Sadikin. (2011, November 3). 1 dari 4 wanita Indonesia berpotensi kanker payudara. https://web.rshs.go.id/1-dari-4-wanita-indonesia-berpotensi-kanker-payudara/
- Osborne, A. et al. (2025). Breast cancer incidence in Indonesia: a sex-disaggregated analysis using WHO health equity assessment toolkit data. BMC Cancer, 25(986), https://doi.org/10.1186/s12885-025-14332-4